Gangguan Fisik Dan Psikologi Pada Anak Alergi Susu Dan Cara Mengatasinya

Gejala alergi yang muncul tidak hanya berupa gatal-gatal pada kulit, pilek, bersin-bersin dan juga batuk, namun gejala alergi dapat menyerang organ-organ lain yang penting seperti otak. Apalagi anak alergi susu, selain anak tidak mendapatkan nutrisi penting dari susu, gejala alergi yang muncul pun dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Alergen atau pemicu alergi sendiri terbagi menjadi 3 jenis, pertama alergen makanan, alergen hirup dan juga alergen suntik. Untuk alergen hirup, pemicu paling banyak adalah serbuk sari dan juga tungau debu yang ada di rumah. Gejala alergi yang paling sering muncul adalah bersin-bersin, sesak napas dan juga batuk. Untuk alergen suntik biasanya dipicu gigitan serangga. Gejala yang timbul beragam, mulai dari bentol-bentol, gatal-gatal, kulit kemerahan dan lain sebagainya. Sedangkan alergen makanan tentu salah satu contohnya adalah alergi terhadap susu sapi yang biasanya memunculkan gejala-gejala seperti gatal-gatal, bengkak pada area tubuh tertentu dan lain sebagainya.

Gangguan alergi pada anak alergi susu berdampak luas, di antaranya adalah kecerdasan dan juga perilaku dari anak. Dari penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki alergi dapat mengalami berbagai gangguan seperti kesulitan berbicara, gangguan daya ingat, impulsive, kurang konsentrasi, lemas, hiperaktif dan juga emosi yang terganggu. Apalagi jika anak mengalami alergi pada umur yang masih muda seperti ketika masih bayi hingga anak berumur 3 tahun. Pada masa-masa tersebut anak berada di periode perkembangan kecerdasan. Adanya reaksi alergi yang muncul di umur 0-3 tahun tersebut akan mengganggu asupan nutrisinya, sehingga akhirnya akan berdampak terhadap perkembangan mentalnya.

Gangguan perilaku dan juga gangguan kecerdasan pada anak dipicu oleh berbagai hal, salah satunya adalah alergi. Jadi anak alergi susu dapat mengalami gangguan perkembangan otak. Gejala-gejala alergi yang muncul seperti batuk, rasa gatal, bersin-bersin dan lain sebagainya juga dapat membuat anak mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi sehingga anak kesulitan menyerap pelajaran. Apalagi jika gejala alergi muncul pada malam hari, hal tersebut dapat mengganggu tidurnya sehingga anak tidak dapat tidur dengan nyenyak. Hal tersebut mengakibatkan anak bangun dalam kondisi tubuh yang tidak segar, akhirnya kondisi fisik dan juga mentalnya menjadi kurang baik.

Belum lagi ketika anak alergi susu mengalami sakit, misalnya sakit flu dan batuk. Pada anak yang tidak memiliki alergi, biasanya flu dan batuk dapat sembuh hanya dalam waktu 5 hari saja, namun anak yang memiliki alergi baru dapat sembuh setelah 2 minggu atau bahkan lebih. Hal tersebut disebabkan karena anak yang memiliki alergi lebih rentan terhadap infeksi virus, bakteri dan kuman. Hal tersebut membuat organ-organ penting dalam tubuh anak seperti otak rentan terserang oleh penyakit.

Ada salah satu cara yang perlu anda ketahui untuk mengidentifikasi jika anak memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Misalnya anak yang berumur di bawah 1 tahun mengalami kesulitan berbicara yang mana ocehannya tidak dapat terdengar dengan jelas. Coba anda menghentikan konsumsi makanan tertentu pada anak, apabila ternyata setelah menghentikan makanan tersebut, misalnya saja susu dan kemudian anak anda menjadi lebih lancar dalam berbicara makan kemungkinan besar anak alergi susu.

Dalam penelitian disebutkan bahwa 3-15% anak yang mengalami keterlambatan berbicara disebabkan oleh alergi. Dari dari jumlah itu, sekitar 1% nya tidak dapat berbicara, 30% nya dapat pulih dan 69% sisanya mengalami berbagai gangguan seperti gangguan kognitif, gangguan bahasa dan lain sebagainya. Anak yang mengalami alergi bisa anda pantau dari beberapa perilaku seperti kebiasaan-kebiasaannya yang sering memasukkan tangan ataupun kaki ke dalam mulut, beberapa kasus juga menyebutkan bayi-bayi yang sering menggigit dan juga menjilat secara berlebihan. Sedangkan pada anak yang lebih besar, perilaku yang sering terjadi adalah mudah marah yang mana semua benda yang dipegangnya akan dilemparkan, memukul-mukul kepala dan juga membenturkan kepala.

Terdapat hubungan antara alergi dan juga gangguan kepribadian seperti perilaku yang agresif ataupun pemalu. Pada anak yang memiliki alergi, ketika dilakukan tes mereka lebih suka melakukan tindakan fisik dan kesulitan dalam menyesuaikan diri di lingkungan sosial. Namun anda tidak perlu khawatir, anda bisa mencegah anak yang mengalami alergi mengalami gangguan-gangguan di atas dengan melakukan beberapa hal berikut.

  • Makanan

Berilah makanan yang bergizi seperti asam lemak omega-3 yang baik untuk perkembangan otaknya. Anda bisa mendapatkannya dari ikan salmon, kacang-kacangan, ikan tuna, alpukat, brokoli, telur dan buah beri.

  • Lingkungan

Buatlah lingkungan rumah yang nyaman dan suportif untuk anak karena orang tua memiliki peran yang sangat penting, orang tua merupakan orang yang paling banyak berinteraksi dengan anak. Buatlah hubungan emosi yang kuat dengan anak seperti bermain bersama, belajar bersama dan lain sebagainya.